.gif)

HMI Dihimpit Antara Kuantitas dan Kualiatas Kader
Oleh: Sabarudin Indra Wijaya
Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan beberapa kader dan kawan-kawan seputar Perkaderan HMI kepada saya, baik secara langsung, lewat inbox dan seluler.
Mana yang lebih penting Kuantitas atau Kualitas Kader/Perkaderan? Rata-rata penanya berpendapat lebih penting kualitas, mereka juga berpendapat tidak jadi masalah setiap LK I hanya bisa merekrut kader dengan jumlah sedikit karena akan melihat kualitasnya. Begitulah pembelaan mereka;
Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan beberapa kader dan kawan-kawan seputar Perkaderan HMI kepada saya, baik secara langsung, lewat inbox dan seluler.
Mana yang lebih penting Kuantitas atau Kualitas Kader/Perkaderan? Rata-rata penanya berpendapat lebih penting kualitas, mereka juga berpendapat tidak jadi masalah setiap LK I hanya bisa merekrut kader dengan jumlah sedikit karena akan melihat kualitasnya. Begitulah pembelaan mereka;
Jawab: Kuantitas dan Kualitas "masalah" yang tidak bisa dipisahkan, namun dapat kita bedakan mana masalah Kuantitas dan mana masalah kualitas. Jika Kualitas kita samakan dengan Mutu yang Baik konotasinya menjadi Positif. dan rata-rata perkaderan diberbagai daerah sangat mengutamakan Kualitas atau Mutu kader yang mencapai rata-rata.
Yang saya pahami, Mutu baik dari seorang kader itu terbentuk dan dibentuk dari rangkaian proses yang kita sebut “Dinamis”. Jika pilihannya Kualitas atau Kuantitas jawabannya (Jika-Maka). JIKA Jumlah kader yang kita rekrut banyak setiap tahunnya, MAKA jumlah kader yang dibina menjadi berkualitas akan banyak. Jika muncul pertanyaan, bagaimana cara meningkatkan kualitas kader? Jawabannya dengan proses, proses yang bagaimana? Yakin dan percaya bahwa proses yang baik, akan menghasilkan yang baik. atau kata yang lebih buming lagi, "hasil berbanding lurus dengan Usaha" atau "Hasil tidak akan menghianati proses".
Jika suatu ketika di mana senior atau pengurus organisasi mengundang serta mengajak untuk mengikuti kegiatan bakti sosial (baksos), diskusi, seminar, bedah buku dll, haruslah dipandang sebagai wujud proses dalam mencapi kualitas diri. Dalam Tafsir Independensi HMI telah dijelaskan dan dibagi menjadi Independensi Organisatoris dan Independisi Etis. Dalam HMI kedua hal ini tidak bisa dipisahkan, keduanya menjadi satu rangkaian proses.
Tradisi
dalam HMI mendidik kader dengan menyarankan banyak membaca buku merupakan proses ke arah
pembentukan pola pikir, tidak hanya sebatas menyarankan membaca, pengurus harus mengupayakan pembinaan dan pengembangan dari hasil bacaan mereka. Maka
sudah barang tentu sikap yang mereka amil adalah bersilaturahmi pada senior-senior yang
sudah memiliki serangkaian pengalaman lebih awal dari juniornya, sehingga dapat dibagi
dan bercerita kembali.
Disinilah rangkaian proses menuju kualitas atau "Mutu Kader"
berjalan secara sistematis, terkadang membosankan dan cenderung lama. tapi
itulah Kualitas menuntut persyaratan yang tidak mudah dan tidak murah. (saran; jangan malas silaturahmi pada senior, disana banyak hikayat yang dapat dipetik)
Tradisi yang terbangun dalam HMI dan merupakan kunci proses mencapai Kualitas Insan Cita Kader adalah Membaca, Silaturahmi dan Berdiskusi. Tradisi ini sudah mengakar dan mendarah daging pada cabang-cabang seluruh Indonesia. Layak pula ditambah tradisi baru supaya mengakar dan mendarah daging yakni Advokasi hasil diskusi serta manajemen waktu. | Cokro_SIW
2 komentar