

Oleh: Sabarudin Indra Wijaya
“Tuntutan HMI harus dipertimbangkan dengan waras oleh Saut
Situmorang, Mengingat lontarannya menyinggung seluruh Kader HMI se-Nusantara.
Kenapa Harus HMI yang dijadikam analogi dalam menarik benang merah pada
pernyataanya”;
Pernyataan kontroversi
yang dilontarkan oleh Saut Situmorang, salah satu pejababat tingggi Komisi
Pemeberantasan Korupsi (KPK) telah menuai berbagai tanggapan. Pernyataan yang
dia sampaikan pada acara Talk Show “Benang
Merah” tayang setia Kamis Pukul 19.30 WIB (Live) disalah satu stasion Televisa
swasta tersebar diberbagai jejaraing sosial dan grup-grup diskusi pada Media sosial
seperti WA, Facebook, BMM dll.
Potongan Vidio yang beredar
berdurasi 1 menit 11 detik, volume pada
vidio tersebut sangat kecil, karena direkam lewat HP pada layar kaca. Saut mengulas
tentang rapuhnya karakter dan integritas bangsa ini serta sistem negara yang
tidak dijalankan kemudian menarik analogi pada perkaderan LK 1 dalam HMI. Berikut
saya kutip statement langsung dari saut yang ada dalam vidio yang telah
beredar.
“Jadi kita tidak
sepakat, atau tidak mau melaksanakan, karena gini, kita tidak akan bisa malaksakan
kontrol tanpa standar, standar itu sudah ada direpubik ini, Keppres mana yang
tidak ada, SK mana yang nggak ada, semuanya ada, tapi ketika itu mau
dilaksanakan semua karakter dan integritas bangsa ini sangat rapuh. Orang baik
di negara ini mas, jadi jahat ketika dia sudah menjabat, lihat saja tokoh-tokoh
politik kita itu orang-orang yang pinter semuanya, orang itu orang-orang yang
cerdas.
Saya selalu bilang
kalau di HMI minimal dia LK 1, iyakan,,, lulus tuh anak-anak mahasiswa, pinter,
tapi ketika menjadi menjabat dia jadi jahat, curang, Lidih, ini karena apa? Karena
sistem belum jalan, artinya apa, adapun aturan-aturan itu tidak pernah
dijalankan, ini artinya kenapa karakter
dan integritas orang itu berubah. Ini persoalan bangsa kita, itu saya
bilang peradaban bangsa kita ini karena apa? Karena memang kita tidak mau
bermain dari sesuatu yang terkecil.”
Jika dianalisa statement
yang disalin dari vidio tersebut, sistematika penjelasan saut sangat acak, agak
tumpang tindih, bahasa yang digunakannyapun tidak menggunakan kaidah kalimat
yang baku. Secara garis besar saut mengkritik sistem negara yang tidak
dijalankan dengan benar, sehingga siapa saja bisa melakukan tindakan korupsi. Kalimat
“Kita
tidak akan bisa malaksanakan kontrol tampa standar” bisa dipahami
tugas KPK yang melakukan kontrol terhadap kasus korupsi yang kerap terjadi pada
negara ini, namun tidak bisa melakukan kontrol jika tanpa standar, santdar
sudah ada seperti Keppres dan SK namun tidak mau atau susah dijalankan lantaran
sistem negara ini terlampau kacau.
Karena sistem negara ini
yang salah tidak berjalan dengan baik dan benar, elit-elit politik yang
dasarnya baik dan cerdas bisa tersandung kasus korupsi. Sehingga Saut menarik
analogi yang mungkin dia sangat ia pahami adalah sistem perkaderan LK I dalam HMI
yang sering mencetak kader yang cerdas, pintar namun ketika menjabat di sistem
politik negara menjadi jahat dan licik, ini kenapa? Saut menjawab sendiri
karena sistem negara yang tidak dijalankan.
Banyak pertanyaan dari
kader-kader HMI, kenapa Saut mengambil contoh dari HMI, kenapa tidak yang lain
atau mengambil contoh pada perguruan tianggi tertentu, kenapa harus HMI?. Perlu
kita ingat Saut adalah mantan staf ahli Badan Intelijen Negara (BIN) yang pasti
sudah mempelajari HMI dan sistem perkaderan HMI dengan baik berdasarkan ucapan
saut pada paragraf dua dari kutipan diatas “Saya selalu bilang kalau di HMI minimal dia
LK 1, iyakan, lulus tuh anak-anak mahasiswa, pinter, tapi ketika menjadi
menjabat dia jadi jahat, curang, Lidih, ini karena apa? Karena sistem belum
jalan”, berdasar penggalan kutipan ini, bisa kita simpulkan bahwa Saut
sering melontarkan kalimat serupa diberbagai kesempatan yang dia punya, HMI
sering terucap dari mulutnya.
Dan mungkin Saut memahami
sistem perkaderan yang paling baik diantara semua Organisasi perkaderan yang ada
di negara ini HMI lah yang terbaik. Tapi yang terbaik seperti HMI ini saja masih
bisa tersandung kasus lantaran sistem negara yang tidak mau dijalankan oleh
negara sendiri. Bisa jadi maksud Saut, kasus korupsi yang menimpa beberapa
alumni HMI bukan karena alumni tersebut
berniat korupsi tapi karena terjebak oleh sistem yang ada.
Terlepas dari sekian
banyak tanggapan dari Kader HMI, hal ini baik dijadikan bahan evaluasi oleh seluruh
kader HMI. Jika dalam jangka waktu 20 atau 30 tahun mendatang sistem dalam
negara ini sudah mengalami perbaikan, maka kader HMI lah yang lebih siap
mengisi setiap lini kepemerintahan dan perpolitikan di negara ini. Hal ini
bukan tanpa alasan yang kuat karena Staf Ahli BIN pun harus mengakui sistem
perkaderan terbaik ada pada HMI. | Cokro_SIW
Gabung dalam percakapan