

PERBEDAAN YANG MEMUSUHI
Oleh: Lalu Ria Suhardiman
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. al-Hujurat/49: 13).
Perbedaan adalah suatu anugrah (sunatullah). Tuhan menegaskan dengan sangat benderang bahwa perbedaan merupakan keniscayaan dalam setiap aspek kehidupan manusia (Q.S. al-Hujurat/49: 13; Q.S. Yunus/10: 41-42). Sesungguhnya perbedaan tersebut akan mengantarkan manusia pada proses untuk saling memahami dalam kerangka interaksi satu sama lain. Eksistensi bangsa dan suku tentu akan berimplikasi pada tegaknya budaya masyarakat sebagai satu ciri khas yang membedakannya dengan masyarakat lain. Konsekuensi selanjutnya atas perbedaan tersebut adalah tuntutan moral bagi setiap orang untuk mampu menghormati apapun yang berbeda dari orang lain. Tak bisa dinafikkan bahwa kebermaknaan interaksi sangat ditentukan oleh kemampuan kita menerima orang lain apa adanya.
Jika perbedaan itu dimanifestasikan ke dalam pola pikir sempit dan hanya mencoba menilai dari satu teropong saja, maka hal ini akan berdampak pada ketidakseimbangan perspektif dan persepsi. Hal paling menonjol dari kelindan perspektif dan persepsi sempit tersebut adalah munculnya sensitifitas keberagamaan. Agama sering dijadikan sebagai alasan untuk menyalahkan orang lain. Wilayah agama kadang menjadi pemicu sinis bagi kita dalam menentukan bentuk interaksi dengan yang lain.
Ceramah Rizieq di hadapan jamaah pengajian tentang keesaan Tuhan tidak ada yang salah sebab hal itu memang diterangkan dalam al-Qur’an dan menjadi keyakinan paling esensial dalam ajaran agama Islam. Tidak ada satupun yang berhak mempertanyakan dan mempersalahkan keyakinan tersebut, apalagi umat yang berbeda keyakinan. Bahwa uraian Rizieq atas terjemahan surat al-Ikhlas bagi umat Islam adalah final dan tidak bisa diutak-atik. Sebab pengakuan transenden atas eksistensi Tuhan sebenarnya ada pada surat tersebut.
Lantas apakah setiap orang harus menjadi pribadi yang hanya berkutat pada perbedaan atas sebuah keyakinan? Jawabannya tentu TIDAK. Agama adalah ajaran keyakinan yang bersifat privacy dan tidak begitu saja bisa dimasuki dengan sembarangan oleh orang yang berbeda keyakinan. Maka menjadi pemandangan yang tak elok jika keseharian kita hanya berjalan pada esensi yang begitu sulit untuk dipersamakan. Hal terbaik adalah mari saling menghormati dalam ruang perbedaan untuk menegakkan keutuhan persatuan. Karena sesungguhnya dimata Tuhan perbedaan bukanlah tujuan utama penciptaan manusia, tetapi manusia diciptakan untuk menentukan seberapa besar nilai TAQWA yang dipersembahkan dan seberapa mampu manusia menjaga taqwanya.
Wallahu’alamu bisshawab
Ciputat, 30 Desember 2016 Pukul 05.27 WIB
Gabung dalam percakapan