

Tentang Jarak Pandang.
Oleh: Cokro_SIW
Sebuah pegunungan dengan panorama yang sangat indah, syahdu dilihat, segar untuk dinikmati. Awan-awan beriringan menyapa dari atas walau pada kenyataannya jarak mereka berjauhan, tapi nampak seperti dalam satu kesatuan keindahan. Matahari menambahkan efek cahayanya, tepat menyoroti pegunungan dari sisi kiri. Awan sepeti malu-malu lewat dibawahnya.
Terbisik dari dalam hati, seperti apa bila aku mendekati pegunungan itu? Perlahanku berjalan kearahnya, semakin jauhku berjalan semakin mendekat pada pegunungan itu, perlahan juga keindahan yang tadi jauh dari pandangan dan pada akhirnya sirna karena aku sudah ada tepat di atas puncak gunungnya.
Kemana keindahan yang aku lihat dari jauh tadi, masih segar dalam ingatanku tentang bentuk, warna dan panorama indahnya. Tapi disini banyak sampah, kotoran binatang, bangkai binatang yang tak habis dimakan pemangsa lainnya. Belum lagi ranting-ranting patah, daun-daun kering yang tinggal tunggu waktunya disulut api maka akan ada kebaran hebat. Iya disekitaran gunung tumbuh batang-batang pohon kokoh, bebatuan yang curam, tanah gembur dan kering saling beselang jarak. Terik matahari menyengat kulit. Aahh sepertinya aku salah tempat kecurigaanku mulai mengalir.
Ternyata keindahan yang aku lihat dari kejauhan tadi, diunsuri kotor dan kesuburan yang bermusim, diunsuri fakta yang saling bertabrakan. Sebaiknya aku balik ketempat dimana aku berdiri tadi, tempat aku memandang penggunungan dari kejauhan. 15 menit berjalan aku sampai pada tempat awalnya aku melihat keindahan tadi. Tidak ada yang hilang dari panoramanya, hanya saja awan berubah warna menjadi jingga, semakin dalam rasa indahnya.
Aku jadi takut, untuk kebali mendekat meski hanya dikaki gunungnya, hari semakin memperlihatkan sisi gelapnya, keburukan apa lagi yang akan nampak bila malam hari aku kembali ketempat tadi. Aku jadi sedikit paham keindahan juga dipengaruhi jarak pandang.
Jauh dan dekat memiliki realitasnya masing-masing. Sama-sama menyuguhkan fakta yang tidak bisa dibelokkan apalagi disangkal kebenarannya.
Fakta ini hanya didapati oleh orang-orang yang sudi mencari kebenaran dengan mata telanjang. Bukan kira-kira apa lagi sebatas persepsi buta.
Catatan Lama, 13 April 2017
Gabung dalam percakapan