

Tentang Masiswa Yang Mati, 1996
Sabda_Sastra. Mamanya menceritakan Novel Genduk dan karya Pram, hingga Bernadette mengenal Sapardi.
Setiap generasi selalu menyuguhkan keunikan dan ciri khas yang berbeda. Baik secara pemikiran, tindakan dan karya-karyanya. Namun apapun karya siswa dan generasi bangsa ini, sangat layak untuk kita apresiasi sebaik mungkin. Sebab hal tersebut merupakan langkah awal untuk melahirkam generasi yang percaya diri dan kaya akan karya-karyanya. (sejalan dengan generasi emas di tahun 2045)
Sebagai penulis pengantar pada karya visualisasi puisi dari Bernadette Adinia, sepintas membuat beberapa orang (mungkin) akan mengkerutkan kening dan menyatukan alisnya (kenapa bisa ya? anak SMP sudah mengenal puisi Sapardi Djoko Damono yang bahkan sekelas mahasiswa semester I terkadang belum tentu mengenal apalagi sampai paham).
Usut punya usut (kepo jadinya…) ternyata perkembangan belajarnya dipengaruhi oleh mamanya yang sangat menggilai sastra dan dan papanya yang menggilai seni, setelah melalui percakapan yang disampaikan oleh mamanya ternyata Bernadette sudah pernah membaca karya penyair dan penulis ternama seperti Laut Bercerita novel karya Leila S. Chudori, Genduk karya Sundari Mardjuki, dan yang paling membuat saya kagum ketika bernadette mencoba memahami karya-karya Pramoedya Ananta Toer (siapa yang tidak mengenal penulis gila bernama pram) salah satu novel yang ia baca adalah Gadis Pantai. (Novel yang menggambarkan mengenai situasi feodalisme di daerah Jawa). Hingga sampai ia menginjak umur 14 tahun ia masih tetap membudayakan membaca yang dibimbing dan ditemani langsung oleh mamanya yang bekerja sebagai dokter.
Saya terkejut akan buku-bukunya yang ia baca (tidak salah namun saya rasa agak berat buku tersebut untuknya jika dibaca tanpa kedewasaan dalam memaknai dan akan berbahaya jika tanpa pendampingan. Sebab ilmu juga butuh kedewasaan dalam membawanya). Tetapi, ada budaya yang dibangun dalam keluarganya semenjak ia menjadi kanak-kanak. Sejak kecil ia sudah mengenal buku-buku bacaan kakeknya, dan bahkan ada budaya membaca buku bergantian yang melibatkan Kakek, mamanya dan bernadette hingga puncaknya adalah mendiskusikan hasil bacaan tersebut untuk menghikmahi hasil bacaan dari buku yang mereka baca. Adette sebenarnya adalah siswi yang sebelumnya agak minder dan kurang percaya diri akan kemampuannya, namun setelah ia beranjak SMP di Sekolah Jembatan Budaya, ia mulai mau terlibat aktif dan menujukkan pilihan bakat-bakatnya.
Setelah Laut Bercerita, Genduk, Gadis Pantai dan beberapa karya yang sudah ia baca. Hari ini dia mengenal Sapardi Djoko Damono, penulis dan sastrawan kesohor yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Kita mengenal karya-karya mendiang eyang Sapardi seperti puisi Hujan Bulan Juni, Aku ingin, pada suatu hari nanti dan lain-lain. Yang hampir beberapa puisi juga ada versi novelnya. Dan berikut visualisasi puisi karya Bernadette tentang puisi Sapardi Djoko Damono "Tentang Mahasiswa Yang Mati, 1996"
Tentang Mahasiswa Yang Mati, 1996
Karya: Sapardi Djoko Damono
Aku mencintainya sebab ia mati ketika ikut
rame-rame hari itu. Aku tak mengenalnya,
hanya dari koran, tidak begitu jelas memang,
kenapanya atau bagaimananya (bukankah semuanya demikian juga?) tetapi rasanya cukup alasan untuk mencintainya. Ia bukan
mahasiswaku. Dalam kelas mungkin saja
ia suka ngantuk, atau selalu tampak sibuk mencatat, atau diam saja kalau ditanya,
atau sudah terlanjur bodoh sebab ikut saja
setiap ucapan gurunya. Atau malah terlalu suka membaca sehingga semua guru jadi asing baginya. Dan tiba-tiba saja, begitu saja, hari itu ia mati; begitu berita yang ada di koran pagi ini entah kenapa aku mencintainya karena itu. Aneh, koran ternyata bisa juga membuat hubungan antara yang hidup dan yang mati, yang tak saling mengenal. Siapa namanya, mungkin disebut di koran, tapi aku tak ingat lagi, dan mungkin juga tak perlu peduli. Ia telah mati hari itu–dan ada saja yang jadi ribut. Di negeri orang mati, mungkin ia sempat merasa was-was akan nasib kita yang telah meributkan mahasiswa mati.
Silahkan interprestasikan sendiri untuk puisi tersebut, sebab saya ingat pesan mendiang saat diwawancarai mbak Najwa Shihab (mbak Nana).
"Puisi yang bagus, adalah puisi yang mampu ditafsirkan banyak orang. Semakin banyak inteprestasi tentang puisi maka puisi itu akan hidup. Kalau puisi hanya dimaknai sekali, ya gak akan hidup puisi tersebut" ujar mendiang Eyang Sapardi Djoko Damono. |siw.
|
Profil Visualitator:
Nama: Bernadette Adinia
Dilahirkan dengan nama lengkap Bernadette Adinia Hapsari Prabandari di Denpasar , 29 Desember 2006.
Saat ini adalah pelajar SMP Jembatan Budaya.
Menyukai seni tari, seni lukis,puisi dan novel sastra.
Gabung dalam percakapan