

ISLAM: AGAMA RAHMAT
Oleh: Lalu Ria Suhardiman
Islam adalah ungkapan yang memberikan makna tentang kepasrahan sepenuhnya kepada Allah. Hal ini selaras dengan penuturan suci dalam al-Qur’an bahwa para Nabi dan Rasul membawa ajaran yang sama yaitu Islam. Nurcholish Madjid dalam bukunya Pintu-Pintu Menuju TuhanmenjelaskanbahwaparaNabidanRasulmembawaajarankepasrahankepadaTuhan. Nabi Nuh membawa ajaran Islam yang menekankan pada penyerahan diri kepada Allah.[1] Nabi Ibrahim pun membawa ajaran Islam dengan pernyataan: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam"[2]yang kemudian mewasiatkan ajaran tersebut kepada Nabi Ya’qub[3] dan keturunannya. Wasiat Ibrahim kepada Ya’qub diterjemahkan oleh salah satu keturunannya yaitu Nabi Yusuf. Yusuf dengan penuh keyakinan mempersembahkan diri dengan do’anya: “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam”.[4]Lalu ada Hawariyyin (pengikut Isa) yang juga menegaskan diri sebagai orang-orang yang berserah diri pada Allah.[5]Begitu juga dengan nabi-nabi dari golongan Bani Israil yang berserah diri kepada Allah.[6]
Dalam sejarah Nabi dan Rasul, esensi ajaran yang mereka bawa pada dasarnya sama meskipun dengan praktik keyakinan yang berbeda-beda. Ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul tersebut selanjutnya mengalami perkembangan sampai pada titik penyempurnaan baik secara esensi maupun praktik. Penegasan Islam sebagai jalan untuk pasrah kepada Allah SWT yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul tersebut disempurnakan dalam ajaranyang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ajaran ketundukan dan kepasrahan yang dibawa Muhammad SAW ini dalam perkembangan selanjutnya diaksentuasikan dalam sebutan agama Islam.
Dengan agama ini maka agama-agama lain telah lebur menjadi satu dan yang ada hanyalah agama Islam. Allah SWT menyempurnakan nikmat kepasrahan itu dalam kemutlakan ber-Islam.[7]Agama ini merangkum semua bentuk kemaslahatan yang telah diajarkan oleh agama-agama sebelumnya. Tunduk pasrah kepada Allah SWT sebagai inti ajaran dalam agama Islam membawa pada satu keyakinan bahwa Islam adalah kesempurnaan hakiki untuk mencapai kehidupan sempurna.
Dalam
konteks ajaran nabi-nabi sebelumnya, kesempurnaan hidup sebagai sikap pasrah
kepada sang pencipta yang diajarkan agama Islam adalah mengimani bahwa Islam
adalah satu kesatuan ajaran dengan agama-agama sebelumnya. Dalam konteks
interaksi sosial, agama Islam mengajarkan untuk menjadi pribadi yang terbuka,
toleran dan ikhlas menerima perbedaan.[8] Oleh karena itu, Islam harus dipandang
dan dipahami sebagai sebuah ajaran yang menekankan pada sikap pasrah kepada
Allah SWT. Dengan sikap pasrah tersebut, maka setiap manusia dituntut untuk
terbuka agar ajaran Islam mampu diwujudkan dalam spirit rahmatan lil
‘alamin.
Ciputat, 29
Desember 2016 Pukul 00.44 WIB
[1] Q.S. Yunus/10:72
[2] Q.S. al-Baqarah/2:131
[3] Dalam al-Qur’an dituturkan bahwa Nabi
Ya’qub adalah nabi yang melahirkan keturunan yang dikenal dengan sebutan Bani
Israil.
[4] Q.S. Yusuf/12:101
[5] Q.S. Ali Imran/3: 52; Q.S. al-Maidah/5:
111
[6] Q.S. al-Maidah/5:44
[7] Q.S. al-Ahzab/33:40; Q.S. al-Maidah/5:3;
Q.S. Ali Imran/3:19; Q.S. Ali Imran/3:85
[8] Q.S. Yunus/10:40-41; Q.S.
al-Kafirun/109:6
Gabung dalam percakapan