Fenomena Hijrah Anak-Anak Muda
Fenomena Hijrah Anak-Anak Muda

Membaca Diri Dalam Fenomena Hidjrah

Oleh: Sabarudin Indra Wijaya.

Antara masa lalu, Jahiliyah dan Kampret yang “Hidjrah”. Tulisan ini sejatinya untuk diri saya sendiri, yang akhir-akhir ini mengalami pasang surut iman, pasangnya sehari, surutnya berhari-hari. Apakah layak mengklaim diri calon penghuni Surga Allah dengan iman yang semacam ini?. (bantu saya menjawab).

Saya terbilang golongan muda yang gemar menggunakan kecanggihan Media Sosial untuk berinteraksi, kadang menjadi alat untuk menyalurkan ide dan inspirasi. Tak jarang kegemaran saya ini mengisi pengetahuan saya secara tidak sengaja. Seperti beberapa hari lalu, saya menyimak ceramah ustadz muda nan ganteng yang menyarankan untuk meninggalkan komunikasi dengan teman-teman yang dinilai tidak membawa manfaat. Yang bagi ustadz muda ini “bukan bermaksud memutus silaturahmi, melainkan menjaga jarak saja agar kita tidak terjerumus pada mereka yang tidak membawa manfaat bagi kita”. Satu penjelasan yang rumit saya urai.

Pada hari yang sama pula saya menyimak perdebatan di media sosial (Fecebook) tetang kasus yang dialami oleh Yahya Cholil Satquf selaku Watimpres yang menghadiri undangan Israil dalam sebuah dialog. Beragam komentar atas kasus ini, tidak sedikit yang menghujatnya bahkan mencapnya penghianat perjuangan umat Islam atas kemerdekaan Palestina. Tidak banyak juga yang berupaya membela dan meluruskan masalahnya. Hujatan semakin bertambah seiring orang-orang tahu jika dia sorang NU. Dalam dialog digital ini ada satu komentar yang membuat saya tergelitik, yakni komentar Netizen yang mengatakan “Hanya KAMPRET yang melihat masalah dengan mata dan posisi terbalik”. Saya pun sedikit tertawa.

Hari ini, Jumat 29 Juni 2018 saya membaca postingan kawan SMK dulu tentang masa lalunya sebagai pemain Band. Dia teman sekelas saya sewaktu di SMK. Saya pun turut berkomentar dengan perasaan yang sama, sekedar mengingat masa-masa putih abu-abu dulu. Ternyata di postingan itu juga sudah lebih dulu ada komentar yang menjelaskan pada kawan pemilik postingan, bahwa sebaiknya jangan mengingat lagi masa-masa itu, yang dia sebut masa “Jahiliyah”. Satu hal ini membuat saya tertarik untuk merenungi lagi, khususnya masa lalu pribadi saya yang mungkin benar ‘jahiliyah’.
Kemudian, saya coba mereduksi tiga rangkaian ini menjadi satu cerita ke dalam tulisan. Tidak bermaksud mempermasalahkan tiga rangkain cerita di atas benar atau salah, tapi saya ingin mendalami masalah ini dari berbagai sisi. Anggap saja seperti cara KAMPRET melihat semua masalah. Iya… bisa saja saya dinilai kayak KAMPRET yang lagi membaca masalah dengan cara membolak-balikkan masalahnya agar melihat banyak sisi.

Tentang Cara Pandang

Melanjut tulisan ini saya katakan hanya untuk membaca diri. Yang dulu punya kehidupan yang tidak lagi sama dengan sekarang. Saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya cairan alkohol, karena saya pernah berjanji pada orang tua untuk tidak mencicipi barang ‘haram’ tersebut. Tapi alkohol bukan hal yang tabu bagi saya, karena saya berteman juga bersahabat dengan orang-orang mengkonsumsi alkohol;, memakai pil ekstasi, orang-orang yang terkena kasus kriminal yang bahkan salah satu diantaranya pernah diancam tembak mati karena kasusnya.

Saya bertanya, haruskah saya menjauhi mereka berdasarkan saran ustad muda yang saya jelaskan diawal?. Saya tidak ingin buru-buru menyimpulkannya, karena ada yang ingin saya pastikan dulu. Meski saya juga sadar dalam proses memastikan hal-hal itu ada konsekuensi terhadap saya, bisa saja saya malah terpengaruh menjadi peminum yang lebih gila dari mereka, (semoga tidak terjadi).

Katakan lah saya menjadi pribadi yang sedikit positif dari kelakuan kawan-kawan saya tadi, lantas berpikir saya lebih baik dari mereka semua. Maka dengan itu, saya berpikir jangan mendekati mereka agar tidak terpengaruh. Ini logika pertama yang bisa muncul. Dengan situasi seperti itu apakah mereka benar-benar tidak memberi manfaat pada saya?? Jika dilihat pada sisi hubungan spiritual nampaknya tipis sekali kebermanfaatan mereka. Jika pada sisi yang lain, semisal hubungan yang lebih “Pragmatis” berbicara laba rugi (soal Rupiah) apakah mereka masih belum membawa manfaat bagi diri saya?. Pada sisi yang lain saya juga harus sudi menengoknya apakah ada manfaat kepada diri saya karena terus berteman baik dengan mereka. Seburuk apa sih mereka sehingga tidak saya temukan sisi baiknya sedikit saja atau sebaik apa saya ini sehingga melihat sisi baik teman saja tidak sudi.

Semuanya memaksa saya bertanya lagi, seperti apa hubungan yang dikehendaki Tuhan antara satu manusia dengan manusia yang lain itu. Antara yang baik dan bejat?.

Jika semua ini karena dakwah Islam, apakah haruskah meniadakan objek ‘buruk’ demi memperbanyak objek ‘baik’. Apa makna dibalik penyataan Kanjeng Nabi “Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak”. Dengan pengetahuan keislaman saya yang dangkal ini, mencoba meraba-raba pada cerita sejarah, apakah Kanjeng Nabi menghindari mereka-mereka yang bejat untuk merubah (dalam konteks mencapai taraf kesempurnaan) akhlak seseorang?.

Dikisahkan juga, Nabi yang terus dicemooh bahkan dilempari kotoran. Nabi tidak menghindar dari hidup orang itu agar tidak terkena perbuatan yang tidak berguna bagi Nabi sendiri, Beliau malah menunjukkan pesan dengan sikap tetap santun dan ramah kata-kata. Apakah nabi menghujat? Setahu saya tidak, malah Nabi meredam amarah malaikat yang marah melihat nabi diperlakukan seperti itu. Nabi menjadi orang pertama yang menjenguk orang bejat itu ketika mengalami sakit keras, ketika para tetangganya cuek-cuek saja. Nabi malah bertanya kemana orang yang kerap melemparinya? Ternyata mengalami sakit keras dan Nabi menjenguk dan berdoa untuk kesembuhan orang itu. Tidak butuh waktu lama, Si bejat memeluk Islam.

Cerita ini sudah banyak diucap, dengan kalimat-kalimat yang lebih indah bahkan lebih dramatis. Bahkan, dengan cara pandang dan pemaknaan cerita yang beragam. Begitu juga si KAMPRET yang menulis ini. Sungguh jika para pembejat itu tahu perilaku mereka tidak memberi manfaat pada orang lain bahkan dirinya sendiri, mungkin akan ia tinggalkan perilaku itu. Tapi yang sudah mencapai ruang pertobatan, menjadi pribadi yang lebih baik tapi terus menjauh, menghindar, bahkan memandang jijik masa lalunya yang masih terisi oleh orang-orang yang pernah menjadi sahabat baiknya. Menyembunyikan perilaku baiknya hanya diruang-ruang privasi mereka dan terus menghindar, akankah akan ada banyak orang yang masuk pada pintu “Hidjrah itu”? seperti diri kita yang sudah menganggap diri hidjrah. Apakah mereka tidak layak mencicipi manisnya pertaubatan karena mencontohi(mu) lantaran masa lalunya yang jahiliyah? Si KAMPRET berkata “Kejam Sekali Hidup Ini” tidak ada ruang untuk Si bejat lagi. Dia akan dipandang manusia apabila dia sudah membuang sifat bejatnya. Ooh sungguh terlalu.


Dibalik Masa Lalu yang Jahilyah.

Si KAMPRET ini masih melihat masalah dengan cara membolak-balikkan masalahnya agar ketemu sisi baiknya. Bissmillah,(21)…

Saya masih percaya bahkan mengimani segala ciptaan Tuhan itu ada kebermanfaatannya sekalipun hal itu buruk dipandang manusia. Bahkan (tabek) Tinja manusia ada manfaatnya jika disandingkan dengan kata-kata yang bertujuan baik seperti memaknai kata “Ikhlas”. “Ikhlas itu seperti orang membuang kotorannya” bahkan seorang ustadz menggunakan analogi ini untuk menjelaskan makna Ikhlas. Ini seperti perbendaharaan kata kehabisan stok kata yang baik saja. Eeh, ternyata kata yang buruk, jahat, jorok, jijik atau kasar secara maknanya jahirnya memiliki sisi kegunaan pada ruang yang positif. Seperti (tabek) kata Tinja/Kotoran. Begitulah si KAMPRET melihat (baca juga; memaknai) kata atau masalah “Jahiliyah”.

Saya punya gambaran masa lalu yang tidak layak diumbar. Saya patut bersyukur karena Allah menjaga aib saya ini dari lingkungan hidup saya. Layak juga masa lalu itu saya disebut masa Jahiliyah atau perilaku Jahiliyah dari saya. Tapi ada ruang dalam diri saya ingin meninggalkan itu semua, tapi tidak bisa-bisa. Bahkan berjanji dan berdoa “semoga ketika saya sudah menikah nanti saya meninggalkan perbuatan itu” sambil harap-harap cemas pada doa dan harapan itu sendiri.

Singkat cerita. Alhamdulillah, saya bisa menikah dengan wanita yang saya doakan agar Allah menjadikan dia jodoh (Istri) saya, sesuai juga dengan keinginan dari kedua orang tua saya. Ini satu anugerah buat saya. Tapi bukan itu inti persoalannya, melainkan beberapa jam sebelum saya Ijab-Khabul dalam keadaan masih lajang. Saya disarankan oleh tiga senior saya yang memberi banyak pengaruh dalam aktifitas di Organisasi untuk menjalankan ritual spiritual sebelum masuk pada pintu rumah tangga. Senior yang pertama menyarankan untuk berpuas tiga hari berturut-turut sampai menjelang hari H. Senior yang kedua menyarankan sehari sebelum Ijab-Khabul agar mentadaburi lokasi tempat saya akan melaksanakan Akad Nikah dan membacakan beberapa ayat suci agar lokasinya menjadi sejuk ketika tamu berdatangan. Dan terakhir menyarankan saya untuk melaksanakan Sholat Taubat satu jam sebelum akad dan ketika akad saya dalam keadaan suci (berwudu). Alhamdulillah semua saran saya jalankan.

Dari ketiga saran itu, melebur menjadi satu hikmah buat saya sampai usai melaksanakan sholat taubat. Memandang balik ke belakang (dimasa jahiliyah), bersyukur semua rangkaian hidup itu telah menghantarkan saya kepada banyak pengalaman. Itu semua saya dudukkan sebagai pembelajaran sembari terus mengontrol diri agar tidak mengulanginya. Saya masih meragukan diri apakah benar sudah melaksanakan taubat sembari tetap mengimani kemurahan Tuhan bahwa Dia tidak pelit atas Rahmatnya.

Perubahan Diri atau Mengubah Diri.
Si KAMPRET ini masih dengan caranya, memandang masalah dengan cara terbalik dan membolak-balikkan masalah agar banyak sisi yang ia pahami. Cara ini kerap dilakukan oleh para filsuf. Tapi, si KAMPRET ini bukan seorang Filsuf loo.

Hidjrah, begitu buming kata ini. Banyak orang melabelkan kata itu pada komunitas yang mereka bentuk. Dari sejarahnya kata ini telah diisi dengan kisah laki-laki mulia dan para sahabatnya yang membawa perubahan besar dalam dunia Islam. Iya Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengawali kebangkitan Islam dengan “membuang diri” dari tempat yang penuh masalah negatif (Jahiliyah) menuju tempat yang positif dan membawa pengharapan besar. Dari Makkah menuju Madinah, Nabi melakukan itu atas perintah Tuhan. Orang-orang beriman telah meyakini bahwa konsep perpindahan seperti yang dilakukan Kanjeng Nabi itu akan membawa banyak perubahan baik secara jahiryah maupun batiniah. Bahkan diberi jaminan bila ada yang ber-hidjrah karena menuntut ilmu, balasan pahala begitu besar yang akan ia dapat.

Hidjrah juga memilik makna ganda, selain dari cerita perpindahan Nabi dari Makkah menuju Madinah, ada makna lain yang lebih sering orang-orang nilai lebih dari sekedar penting. Jika saya artikan secara sederhana mirip dengan kata “Taubat” yang sudah dibahas diawal. Hijrah dan Taubat sudah menjadi satu senafas. Semua sudah menilai bahwa Hijrah secara pengertian adalah meninggalkan yang buruk menuju yang baik. Kata ini terinterpretasikan kedalam satu pemaknaan yang lebih sempit dari latar belakang kisahnya, jika orang yang berhasil meninggalkan perbuatan buruknya menjadi perbuatan baik tanpa harus diberangi dengan perpindahan tempat hidupnya (secara geografis) maka itu juga di anggap Hidjrah. Dengan membentuk sebuah komunitas yang menyatakan diri telah berubah menjadi baik yang awalnya buruk, menjadikan kata hidjrah kaya dengan makna. Seperti itu juga si KAMPRET ini menginterpretasikan makna hijrah.

Tapi bolehkah si KAMPRET bertanya dan memastikan apakah dirinya benar-benar telah hidjrah. Semisal memaknai perjalanan nabi dari Makkah menuju Madinah untuk sebuah perubahan dengan cara pandang Hijrah ala generasi jawam now ini?

Si KAMPRET menemukan ada banyak sisi yang di lewati bahkan tidak dia tahu. Bahwa ada missi dalam perjalan Hijrah Nabi, terjadi satu integrasi sosial dalam hidjrahnya, terjalin satu ukhuwah dengan umat lain, dia membawa satu tata laksana hidup baru ditempatnya yang baru, dapat membandingkan kualitas hidup sosial antara umat Islam pendatang dan umat yang sudah lebih awal mendiami Madinah, bertujuan politik, menghimpun kekuatan baru untuk kembali kesal ia berangkat (Makkah). Dan si KAMPRET merasa masih banyak sisi yang belum ia lihat yang kesemuanya dihimpun dalam satu maksud yakni Missi Pembebasan Umat secara keseluruhan. Bukan disempitkan maknanya oleh urusan pribadi yang tidak menganggap orang lain ada.

Saya mengutarakan satu pengalaman lagi dalam memahami makna fenomena Hijrah jaman now ini. Ketika saya menerima pesan dari calon istri saya sebelum menikah. Sederhananya dia mendudukkan satu persoalan bahwa dia dan saya tidak lagi boleh berkomunikasi seperti biasa. Hee,, Hee, sebetulnya saya ini orang yang peka terhadap perubahan. Sejak awal sebelum calon istri ini mendudukkan satu persoalan itu, saya sudah merasakan perubahan dalam dirinya. Saya coba mengevaluasi lagi, oh ketemu duduk perkara pertamanya yakni lingkup pergaulannya.

Tapi saya pura-pura saja tidak tahu kalau saya sudah tahu dia sudah berubah. Lama-lama sikapnya semakin ketat, bahwa chating pun sudah dilabelkan halal-haram bak MUI saja yang oleh dia disebut “chating syariah”. Saya mengerutkan dahi, ‘saya harus bersikap juga’ kata saya waktu itu. Saya mencoba menjelaskan ada yang salah darinya. Bahwa dengan cara pandang keagamaannya seperti itu akan menjadikan dia sangat eksklusif, menutup diri bahkan orang tuanya akan dipersoalkan dengan pemahaman agama seperti itu. Dia pernah bilang kalau dia ingin Hidjrah, persis dengan makna hidjrah anak-anak zama now yang saya maksud. Saya bilang, ingin Hidjrah apa taubat? Kalau mau hijrah sini nyusul saya ke Jakarta, seraya berkelakar.

Singkat lagi ceritanya, setelah lama saya koreksi, dari info yang saya dapat juga dan dia juga mengaku kalau dia belajar pemahaman agama seperti itu dari tontonan Youtube, video-video ceramah yang di dishare di akun instagramnya yang sepotong-sepotong menjelaskan segala urusan. Akhirnya saya berkonsultasi pada senior, agar menyelamatkan wanita idaman saya ini, saran beliau saya harus segera menikahinya. Yaahh,, ternyata itulah obatnya.

Setelah menikahi dia yang cantik itu, dia mulai menceritakan pada saya, bahwa perkataan saya diawal ada benarnya, bahwa orang-orang dipandang sebelah mata, menilai orang dengan cara membanding-bandingkan dengan dirinya yang baru saja (hijrah), bahkan orang tuanya sendiri hampir dinilai tidak baik. “Imannya” telah menutup mata hatinya melihat celah-celah kebaikan pada diri orang lain. (catatan: cerita ini sudah disetujui istri, Alhamdulillah). Semoga kami tidak sedang sesumbar.

Dari kesemua itu, si KAMPRET telah merenungi dengan cara membolak-balikkan masalah untuk mencari makna yang benar. Masalah itu adalah dirinya, yang dibaca kembali agar menemukan kata-kata yang jelek dalam diri untuk diubah menjadi kata-kata yang baik. Mendidik dirinya agar memandang orang lain sama dengan acara Tuhannya memandang ciptaan-Nya. Sesekali bila si KAMPRET mencoba membandingkan dirinya dengan orang lain, yang dievaluasi bukan orang lain, melainkan dirinya.

Antara masa lalu, Jahiliyah dan pertaubatan, semua tersandingi oleh hikmah pembelajaran yang berarti bagi diri. Ini berlaku juga bagi orang lain. Hak Allah memilih hambanya agar dimandikan dengan hidayahnya. Memandang manusia lain itu tidak lebih baik dengan diri sendiri tidak menjadikan diri sendiri itu baik. Memandang orang lain sederajat dengan kita secara kemanusiaan menjaga kita dari angkuh dan sombong. Soal perbuatan baik (baca juga ibadah), pahala dan surga itu karena Rahmatnya, karena ibadah kita tidaklah cukup menjadi mata uang untuk membeli Surga Allah. Wallahualam…


Aras Atas