Menggugat Arah Reformasi 1998
Menggugat Arah Reformasi 1998

Menggugat Arah Reformasi 1998

DIALOGI - Cerita Reformasi Membawa Bang ini ke arah yang berbeda, Indonesia mengalami masa perubahan politik yang besar ketika demokrasi diperkenalkan. Peringatan acara ini menjadi pengingat atas kerja keras dan pengorbanan mereka yang memperjuangkan reformasi. Keberhasilan upaya ini telah memberikan dampak positif bagi seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia.

Apakah reformasi masih berjalan pada orbitnya? Reformasi merupakan cerita utama di panggung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kisah yang seharusnya mengantarkan bangsa Indonesia melewati gerbang kemerdekaan yang harapannya tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Apakah kemerdekaan ini telah dinikmati oleh setiap warga negara Indonesia? Saya ragu untuk mengatakan "ya" atau "tidak" karena banyak alasan yang membuatnya bermasalah.

Sejak runtuhnya rezim baru, Luthfi menjelaskan dalam disertasinya bahwa “Indonesia telah banyak menyaksikan kemajuan di bidang politik, terbukti dengan banyaknya partai politik yang terbentuk setelah reformasi 98 tahun yang lalu. Dan lebih dari 800 surat kabar dan majalah lahir dalam sembilan bulan pertama runtuhnya rezim. Komunitas Penikmat bebas mengeluarkan pendapat, dan bebas memperjuangkan haknya. Suatu prestasi yang luar biasa mengingat hal ini tidak terjadi pada era rezim baru.

Cita-cita kebebasan masih dijunjung tinggi oleh semua pihak, hingga saat ini. Demokrasi memastikan bahwa semua pihak bebas untuk mengekspresikan pendapat mereka. Namun, ada pihak yang mengkritisi bentuk demokrasi di Indonesia saat ini, karena tidak selalu menguntungkan rakyat Indonesia. Kaum fundamentalis termasuk di antara mereka yang melontarkan kritik ini.

Kritik juga menanggapi sikap kritis kaum fundamentalis. Pada umumnya kelompok yang menentang pendirian kaum fundamentalis adalah kaum modernis yang menganggap demokrasi sebagai sistem yang cocok bagi bangsa Indonesia mengingat keragaman budaya yang ada. Tentu perang opini seperti ini bisa memicu konflik horizontal yang berkepanjangan.

Sejarah menunjukkan bahwa konflik horizontal antar kelompok masyarakat telah terjadi sejak lama, biasanya karena ketersinggungan dan intoleransi antar umat beragama. Clifford Greertz mempelajari fenomena ini di Indonesia dan menemukan bahwa ada dua kelompok besar di dalam bangsa, yaitu kelompok santri dan abangan. Saya percaya bahwa kedua kelompok ini sering bergesekkan baik secara mental maupun fisik. Menurut Greertz, santri adalah kelompok yang mengikuti ajaran agama secara ketat dan anti birokrasi. Sedangkan abangan adalah kelompok masyarakat yang tidak terlalu mementingkan praktik keagamaan formal, mereka cenderung mengikuti partai non-agama, berbeda dengan santri yang cenderung bergabung dengan partai agama, khususnya partai Islam.

Sejak demokrasi dilegalkan di negeri ini, banyak anggota komunitas Santri dan Abangan yang mengalami “diaspora” yang dicirikan oleh banyaknya perbedaan partai atau kelompok yang menjadi ciri keduanya. Bahkan sempalan masyarakat santri menjadi radikal dan berani menentang demokrasi yang semula membesarkan mereka. Tak ayal, mahasiswa radikal menuntut berdirinya negara Islam atau sepenuhnya menggunakan syariat Islam untuk mengatur negara bangsa. Namun, tidak semudah membalikkan telapak tangan; Santri harus berhadapan langsung dengan masyarakat Abangan yang lebih mendukung demokrasi sebagai sistem yang mengatur negara bangsa.

Sikap santri dan abangan tidak sesuai dengan cita-cita reformasi dan Pancasila, dimana pada awalnya mereka bekerja sama untuk memperjuangkan hal yang sama. Atau keduanya justru bersembunyi di balik padatnya perjuangan reformasi, setelah terbuka lebar peluang melalui demokratisasi, keduanya berjuang demi kepentingan masing-masing dan saling mengungguli. Konflik antara kedua kubu tersebut bahkan dijadikan sebagai sengat oleh banyak pihak, kalimat “Masih Enak Zaman Ku To?” seakan reformasi yang sudah begitu diperjuangkan dirasa sia-sia oleh Orde Baru. serpihan.

Apakah bangsa ini perlu kembali ke masa Orde Baru untuk mencapai tujuan yang sama dengan perjuangan reformasi di masa lalu, dimana semua pihak bergotong royong memperjuangkan hak-haknya, yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat” di Indonesia?yang diwujudkan dalam “Persatuan Indonesia."Hari ini dalam pemilihan presiden, dua partai politik yang bersaing dapat dilihat sebagai representasi dari kisah Orde Baru dan reformasi, antara sipil dan kekuatan besar. Terlihat bahwa santri dan abangan kembali bertikai, ini terlihat jelas dari arah koalisi yang dibangun oleh kedua calon presiden. Kandidat pertama lebih banyak berafiliasi dengan partai Islam dan kandidat kedua lebih berafiliasi dengan partai sekuler.

Saya kira tujuan reformasi yang sebenarnya bukan untuk menciptakan saling mendukung dan konflik antara Prabowo dan Jokowi, melainkan mereka harus lebih bijak dan lebih toleran untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik. Jika ini tidak berhasil, sebaiknya proses reformasi tutup buku dan momennya dilupakan!

Aras Atas